Blog M.W

Jumat, 18 Maret 2011

KETULUSAN DAN KETELADANAN MENGHASILKAN BUAH-BUAH POSITIF

     Sore hari ini, tepatnya hari senin, 14 Maret 2011 siswa-siswa pada jam terakhir tidak belajar namun diganti dengan membersihkan kelas masing-masing. karena pada hari Rabunya siswa kelas XII akan ada Ujian Akhir Sekolah yang disingkat UAS. Semua ini dilakukan agar kelas bersih dan siap dipakai untuk Ujian.
     Aku sebagai guru yang pada saat itu jam pelajaran terakhir mengajar di kelas XI KI, juga diwajibkan bertanggung jawab dengan proses berlangsungnya kebersihan kelas, maksudnya turut memantau agar siswa-siswa benar-benar membersihkan kelas. Demikian juga dengan guru-guru yang lain juga tidak keetinggalan untuk mengawasi kelasnya masing-masing dimana mereka mengaja pada jam terakhir.
     Kulangkahkan kakiku kekelas XI KI yang letaknya diujung dekat WC pria lantai 2, dengan cepat. karena waktu kami hanya 1 jam pelajaran berarti hanya 45 menit. Ketika ku tiba di kelas ternyata hanya beberapa anak saja yang peduli untuk membersihkan, sedangkan yang lainnya hanya bercanda, bahkan ada yang hanya asik dengan lektopnya saja.
     Melihat kondisi seperti itu, aku tidak memarahi mereka yang tidak peduli dan pura-pura tidak tau dengan apa yang mereka lakukan. Yang ku lakukan hanya mengajak mereka untuk bekerja bersama-sama untuk mulai membersihkan kelas sambil mengatakan behwa pada hari ini ibu yang bertanggung jawab dengan kelas ini untuk bisa bersih karena jam terakhir di kelas ini adalah pelajan ibu..
      Selama proses kebersihan kelas akupun tidak tinggal diam, aku turut bekerja merapikan kabel - kabel  yang berserakkan, menempel  lembaran jadwal pelajaran dan piket yang berserakan di meja, merapikan meja komputer dengan dibantu siswa-siswa yang peduli. Rupanya melihat bu gurunya turut bekerja siswa-siswa yang tadinya tidak peudi jadi malu mereka juga segera turut serta membersihkan dan merapikan kelas. Buku-buku di lemari dirapikan, lemari yang banyak ornamen tempelan kertas pengumuman dihapus dengan lap basah, mengelap meja,  menyapu bahkan sampai proses mengepel yang biasa dilakukan OB mereka lakukan.
      Dalam hatiku berkata, wah ternyata siswa-siswa ini bisa serius juga dalam pekerjaan yang mungkin jarang dilakukan  di rumah, karena latar belakang  di kelas KI ini pada umumnya anak-anak orang kaya. Dimana di rumah sudah ada pembantu yang siap bekerja membersihkan bahkan sampai menyiapkan keperluan mereka si bibik turut serta membantunya.
      Selesai sudah pekerjaan kami kelas menjadi indah, bersih, mengkilap sehingga OB tidak perlu membersihkan kembali kelas ini, kami semua puas. Di sela=sela kepuasanku aku teerkesimak dengan perkataan seorang siswa pria, dia mengatakan,"Bu, saya terharu dengan ibu, karena ibu kok perhatian banget sama kelas kita." Aku sempat kaget dengan kalimat itu, karena merasa bahwa apa yang kulakukan pada hari ini sudah merupakan kewajiban seorang guru, namun rupanya di mata siswa berbeda, bahwa apa yang aku lakukan dengan penuh ketulusan dan bukan hanya menyuruh namun juga terlibat langsung telah menghasilkan buah-buah kebaikan yaitu; timbul rasa tanggung jawab, rasa memiliki, kerja sama yang kompak, menggasihi satu sama lain, menghormati satu sama lain. Semua ini terlihat ketikan proses satu jam pelajaran siswa-siswa melakukan kebersihan kelas.

Minggu, 20 Februari 2011

Artikel

Saya puas hari ini, karena anak didik dapat nilai yang memuaskan dalam pelajaran seni musik untuk materi bahan ajar “Musik Nontradisional Indonesia”, itu adalah ungkapan ibu Eta yang menjadi guru di salah satu SMA Negeri di daerah Jakarta Utara.
Selama ini siswa kurang suka terhadap  pelajaran musik nontradisional Indonesia,  penyebabnya adalah  isi materi didalamnya penjelasan  tentang musik Dangdut, Keroncong, Gambus, Melayu dan Pop, tentu saja bagi anak didik kurang suka. Mereka lebih menyukai jenis musik modern seperti musik Jazz, Country, Rock, Reggae dan masih banyak lagi jenis musik yang banyak bermunculan selama ini.
Untuk merubah ketidaksukaan terhadap musik nontradisional ibu Eta mengadakan eksperimen pengajaran dengan dua cara yang berbeda. Eksperimen yang dilakukan ibu Eta selama dua tahun. Yaitu dari tahun ajaran 2007-2008 sampai dengan  tahun ajaran 2008-2009.
Yang dilakukan   pertama-tama mengajarkan materi musik non tradisional degan LKS dan buku cetak saja, latihan praktik, lalu tes praktik. Untuk tahun kedua menggunakan cara yang berbeda, yaitu penggunaan  LCD untuk memberikan contoh film berupa video klip musik untuk setiap masing-masing jenis musik (Dangdut, Keroncong, Gambus, Melayu dan Pop) setelah contoh lalu latihan praktik dan tes praktik .
Apa yang terjadi?  Ternyata hasil penelitian ibu Eta ada perbedaan yang mencolok, karena hasil belajar yang menggunakan video klip anak-anak lebih antusias, mau memperhatikan dengan serius dibandingkan tanpa video. Terlihat juga ketika siswa melakukan ulangan praktik. Bagi siswa yang belajar tanpa contoh video hasil penampilan praktiknya boleh dibilang tidak memuaskan, karena mereka malu bergaya. Namun setelah  siswa belajar memakai video,   siswa berani  mencontohkannya hampir mirip dengan  yang ada di video, bahkan para siswa mengarasemen lagunya dengan gerakan  yang lebih fariatif sesuai dengan irama lagu.
Contoh diatas merupakan suatu gambaran betapa perlunya guru melakukan  inovasi baru,  dikala  mengalami kesulitan dalam proses pembelajaran kepada anak didiknya. Salah satu penggunaan  film sebagai  media komunikasi dapat menjadi alat bantu dalam proses pembelajaran. Penjelasan ini juga tertulis di dalam  Undang-Undang Perfilman BAB 3, Pasal 5 tentang Fungsi dan lingkup film berisi “  Film sebagai media komunikasi massa pandang-dengar mempunyai fungsi penerangan, pendidikan, pengembangan budaya bangsa, hiburan, dan ekonomi.
Lingkup film yang berisi media sebagai fungsi pendidikan,  dapat diakses melalui internet dengan bebas. Misalnya klik You Tube, dan ketik tujuan video apa yang akan di kita inginkan. Setelah  keluar judul dan gambar film, kita tinggal memilih film  sesui dengan bahan ajar.
Bahan ajar  dengan pemanfaatan media film merupakan salah satu cara, masih ada cara-cara lain untuk mencari sumber belajar . Seperti tulisan Sri Joko didalam buku Sumber Belajar Anak Cerdas bahwa “Sumber Belajar adalah bahan yang mencakup media belajar, alat peraga, alat permainan untuk memberikan informasimaupun berbagai ketrampilan anak maupun orang dewasa yang berperan mendampingi anak belajar”.
Kesimpulannya  media film yang disebut juga gambar bergerak, merupakan suatu cara untuk  mempermudah anak  menerima materi pelajaran yang diajarkan oleh seorang guru. Seperti pendapat  seorang filsuf dari cina dalam buku Sumber Belajar Anak Cerdas (Hal: 2) mengatakan “Apa yang saya dengar saya lupa, apa yang saya lihat saya ingat, apa yang saya lakukan saya paham”.

Cerpen: THERE

THERE !
Oleh : Maargaretha Woro
Guru SMA Negeri 13 Jakarta


Pulang mengajar kududuk di ruang tamu, ah nikmat sekali ini kursi rasa lelahku jadi berkurang.   Ketika kupandang sekeliling ruanggan tamu  yang memang sering kulakukan. Aku jadi naik pitam karena itu sepatu sekolah ada lagi dikolong meja tamu
‘There! Kamu keterlaluan ya, itu sepatu mengapa di bawah  kursi lagi!
“ iya mah! Nati dulu, lagi tanggung nich .
“Tidak bisa sekarang juga singkirkan! Kalau tidak kubuang kegot!
“ya!ya.... mamah cerewet nich kagak sabaran.
“Eh kamu kurang ajar yang bilang mamah cerewet, kalau tadi kamu letakkan sepatu di tempatnya, mamah juga tidak ngomel.
Dengan rasa kesal there memungut sepatu di bawah kursi dan berlari ke tangga meletakkan sepatunya, akupun memandangnya  dengan penuh kesal.
       There-there susah sekali diaturnya, mama harus mengingatkan terus- menerus  letak benda yang tepat dan sampai kapan kamu dapat disiplin, paling tidak bertanggungjawab pada diri sendiri. Dan dengan cara apa lagi untuk mengajarkan kamu menjadi disiplin.  Batinku berkata sambil pergi kekamar tidur.
       There anakku sekarang sudah remaja , usianya 14 tahun , 3 bulan. Lahir tepat dibulan November 1996 , menjelang subuh pukul  04.15. Apakah  karena hari sabtu there sifatnya keras?  Itu menurut primbon jawa yang pernah kubaca, tapi akhirnya kutepis juga dugaan tersebut.
       Melihat there dalam kesehariannya selalu ceria, ditelinganya selalu hendset untuk mendengarkan lagu-lagu terbaru, sehingga lagu apa saja yang lagi hits pasti there mengenalnya, mungkin bila ikut kuis berpacu dalam melodi tingkat remaja,  there akan menang.
       Anaknya mudah bergaul dan temannya banyak, aku sendiri sebagai  mamanya heran. Bila melihat kelakuannya akan berbeda antara di rumah dengan di sekolah, ia sangat baik dengan teman-temannya, sehingga ia sangat di senanggi.  Bahkan hampir semua guru mengenalnya siapa itu there. Ia dikenal cerdas sering juara kelas, terutama pada bidang pelajaran matematika, apalagi kalau diskusi kelas wao, tak ada tandinggannya untuk melawannya ketika harus mempresentasikan hasil diskusi, mungkin karena hobby membacanya, sehingga banyak perbendaharaan kata yang dapat dilontarkan kepada lawan diskusinya. Ini semua kuketahui karena ia sering berserita semua kejadian yang ada di kelasnnya.
       Tapi kalau di rumah, ya ampun..., sukanya jahil terhadap saudara-saudaranya. Ada aja kelakuannya, jadilah perang mulut yang pasti pemenangnya “There”. Ia tidak pernah mau ngalah sedikitpun. Untuk melerainya aku memarahi keduanya, walaupun aku tahu There yang salah. Hal ini kulakukan agar tidak terjadi kecemburuan salah satu dari mereka atau pilih kasih.
       Pernah suatu hari aku memarahi There, karena sudah kesal sekali. Apa jawabnya? There bilang aku pilih kasih, ia tidak disayang, bahkan semakin keras jawabannya. Sungguh binggung sekali bagaimana cara menghadapi anakku yang satu ini. Bila dikerasi semakin keras, namun bila dihalusi tidak berubah kelakuannya. Suamikupun demikian tidak berani berbuat kasar, karena takut anaknya semakin nakal.
       Akhirnya sekarang aku dan suami membiarkan saja kelakuannya, karena kami berdua berpendapat muking karena There masih dalam usia pubertas dimana jiwa seorang anak masih labil dan doa kami agar setelah dewasa nanti berubah.
       Tepatnya hari jum’at malam tanggal 28 Januari 2011, pukul 19.30. Tiba-tiba There  menanggis-nanggis di depanku  dan suamiku sambil minta ampun atas kesalahannya selama ini. Aku sendiri jadi binggung ada apa ya? Aneh, rasanya aku hari ini tidak melakukan apa-apa yang membuatnya sedih. Walau dengan keadaan binggung kami berdua tetap menerima permohonannya, sambil memeluk dan menasehati agar tidak mengulanggi perbuatan yang tidak benar selama ini.
       Rupanya rasa sedih yang dialami dan rasa ketakutan akan dosa terus menghantui There, semua berjalan selama tiga hari . Terlihat ia menjadi anak yang cengeng, sebentar-bentar menangis, khawatir takut gagal sekolah dan selalu memastikan kembali sambil bertanya terutama pada aku, apakah aku sudah mengampuni. Sepertinya There belum yakin kalau aku sudah memaafkannya.
       Akhirnya kuajak There untuk duduk bersama kedalam kamar, untuk mengetahui apa penyebab ia menjadi sensitif sekali.
-          There, ada apa ya, kamu kok selama ini mama lihat sering menangis dan penuh kekhawatiran, sepertinya takut gagal.
-          Dengan tersendat-sendat sambil menangis there bercerita tentang nasihat guru BP tentang siksa dalam kubur kalau menjadi anak durhaka. Gurunya bercerita sangat menyeramkan dengan contoh-contoh gambarnya, sehingga There ketakutan.
Setelah tahu persoalannya, kupeluk tubuhnya sambil kuusap-usap dengan penuh kasih sayang. Aku menasihatinya bahwa  Tuhan selalu penuh ampun, apalagi bila kita telah bertobat dengan penuh penyesalan. There aku ajak juga berdoa bersama pada saat itu, agar luka batinya sembuh, tidak perlu khawatir dan kembali percaya diri. Namun yang terpenting bisa merubah kelakuannya menjadi anak yang baik.
       Puji Tuhan, keesokkan harinya There sudah mulai ceria seperti sedia kala dan yang paling kubanggakan sekarang kelakuannya sudah berubah menjadi anak yang baik, disiplin, dan tidak pernah jahil lagi kepada saudara-saudaranya. Sehingga sekarang rumah menjadi nyaman dan damai.