Blog M.W

Minggu, 20 Februari 2011

Cerpen: THERE

THERE !
Oleh : Maargaretha Woro
Guru SMA Negeri 13 Jakarta


Pulang mengajar kududuk di ruang tamu, ah nikmat sekali ini kursi rasa lelahku jadi berkurang.   Ketika kupandang sekeliling ruanggan tamu  yang memang sering kulakukan. Aku jadi naik pitam karena itu sepatu sekolah ada lagi dikolong meja tamu
‘There! Kamu keterlaluan ya, itu sepatu mengapa di bawah  kursi lagi!
“ iya mah! Nati dulu, lagi tanggung nich .
“Tidak bisa sekarang juga singkirkan! Kalau tidak kubuang kegot!
“ya!ya.... mamah cerewet nich kagak sabaran.
“Eh kamu kurang ajar yang bilang mamah cerewet, kalau tadi kamu letakkan sepatu di tempatnya, mamah juga tidak ngomel.
Dengan rasa kesal there memungut sepatu di bawah kursi dan berlari ke tangga meletakkan sepatunya, akupun memandangnya  dengan penuh kesal.
       There-there susah sekali diaturnya, mama harus mengingatkan terus- menerus  letak benda yang tepat dan sampai kapan kamu dapat disiplin, paling tidak bertanggungjawab pada diri sendiri. Dan dengan cara apa lagi untuk mengajarkan kamu menjadi disiplin.  Batinku berkata sambil pergi kekamar tidur.
       There anakku sekarang sudah remaja , usianya 14 tahun , 3 bulan. Lahir tepat dibulan November 1996 , menjelang subuh pukul  04.15. Apakah  karena hari sabtu there sifatnya keras?  Itu menurut primbon jawa yang pernah kubaca, tapi akhirnya kutepis juga dugaan tersebut.
       Melihat there dalam kesehariannya selalu ceria, ditelinganya selalu hendset untuk mendengarkan lagu-lagu terbaru, sehingga lagu apa saja yang lagi hits pasti there mengenalnya, mungkin bila ikut kuis berpacu dalam melodi tingkat remaja,  there akan menang.
       Anaknya mudah bergaul dan temannya banyak, aku sendiri sebagai  mamanya heran. Bila melihat kelakuannya akan berbeda antara di rumah dengan di sekolah, ia sangat baik dengan teman-temannya, sehingga ia sangat di senanggi.  Bahkan hampir semua guru mengenalnya siapa itu there. Ia dikenal cerdas sering juara kelas, terutama pada bidang pelajaran matematika, apalagi kalau diskusi kelas wao, tak ada tandinggannya untuk melawannya ketika harus mempresentasikan hasil diskusi, mungkin karena hobby membacanya, sehingga banyak perbendaharaan kata yang dapat dilontarkan kepada lawan diskusinya. Ini semua kuketahui karena ia sering berserita semua kejadian yang ada di kelasnnya.
       Tapi kalau di rumah, ya ampun..., sukanya jahil terhadap saudara-saudaranya. Ada aja kelakuannya, jadilah perang mulut yang pasti pemenangnya “There”. Ia tidak pernah mau ngalah sedikitpun. Untuk melerainya aku memarahi keduanya, walaupun aku tahu There yang salah. Hal ini kulakukan agar tidak terjadi kecemburuan salah satu dari mereka atau pilih kasih.
       Pernah suatu hari aku memarahi There, karena sudah kesal sekali. Apa jawabnya? There bilang aku pilih kasih, ia tidak disayang, bahkan semakin keras jawabannya. Sungguh binggung sekali bagaimana cara menghadapi anakku yang satu ini. Bila dikerasi semakin keras, namun bila dihalusi tidak berubah kelakuannya. Suamikupun demikian tidak berani berbuat kasar, karena takut anaknya semakin nakal.
       Akhirnya sekarang aku dan suami membiarkan saja kelakuannya, karena kami berdua berpendapat muking karena There masih dalam usia pubertas dimana jiwa seorang anak masih labil dan doa kami agar setelah dewasa nanti berubah.
       Tepatnya hari jum’at malam tanggal 28 Januari 2011, pukul 19.30. Tiba-tiba There  menanggis-nanggis di depanku  dan suamiku sambil minta ampun atas kesalahannya selama ini. Aku sendiri jadi binggung ada apa ya? Aneh, rasanya aku hari ini tidak melakukan apa-apa yang membuatnya sedih. Walau dengan keadaan binggung kami berdua tetap menerima permohonannya, sambil memeluk dan menasehati agar tidak mengulanggi perbuatan yang tidak benar selama ini.
       Rupanya rasa sedih yang dialami dan rasa ketakutan akan dosa terus menghantui There, semua berjalan selama tiga hari . Terlihat ia menjadi anak yang cengeng, sebentar-bentar menangis, khawatir takut gagal sekolah dan selalu memastikan kembali sambil bertanya terutama pada aku, apakah aku sudah mengampuni. Sepertinya There belum yakin kalau aku sudah memaafkannya.
       Akhirnya kuajak There untuk duduk bersama kedalam kamar, untuk mengetahui apa penyebab ia menjadi sensitif sekali.
-          There, ada apa ya, kamu kok selama ini mama lihat sering menangis dan penuh kekhawatiran, sepertinya takut gagal.
-          Dengan tersendat-sendat sambil menangis there bercerita tentang nasihat guru BP tentang siksa dalam kubur kalau menjadi anak durhaka. Gurunya bercerita sangat menyeramkan dengan contoh-contoh gambarnya, sehingga There ketakutan.
Setelah tahu persoalannya, kupeluk tubuhnya sambil kuusap-usap dengan penuh kasih sayang. Aku menasihatinya bahwa  Tuhan selalu penuh ampun, apalagi bila kita telah bertobat dengan penuh penyesalan. There aku ajak juga berdoa bersama pada saat itu, agar luka batinya sembuh, tidak perlu khawatir dan kembali percaya diri. Namun yang terpenting bisa merubah kelakuannya menjadi anak yang baik.
       Puji Tuhan, keesokkan harinya There sudah mulai ceria seperti sedia kala dan yang paling kubanggakan sekarang kelakuannya sudah berubah menjadi anak yang baik, disiplin, dan tidak pernah jahil lagi kepada saudara-saudaranya. Sehingga sekarang rumah menjadi nyaman dan damai.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar